Wednesday, April 8, 2026

Makan Makanan Sisa, Firman, dan Sakramen

Sebuah refleksi dari sebuah bab dari buku Liturgy of the Ordinary (Tish H. Warren)

 

Makanan merupakan hal fundamental dan rutin yang kita hadapi setiap hari. Dalam satu sisi, kita bisa menikmati makanan, tetapi kerap kali, makanan yang kita makan adalah makanan sisa kemarin yang sudah agak kering di kulkas. Bahkan, dalam hidup kita seutuhnya, lebih sering kita makan makanan seperti ini daripada makanan fine dining yang fancy.

Namun, ternyata makanan yang kita sering anggap remeh ini justru menunjukkan kita kepada esensi liturgi, terutama Firman Tuhan dan sakramen.

Saya mengajak kita fokus kepada subtext dari bab ini, yaitu Firman, Sakramen, dan Makanan yang Dipandang Remeh. Ada satu benang merah yang kita bisa tarik dari ketiga poin ini:

1.       Firman

Firman Tuhan memberi hidup dan membangun iman, salah satunya lewat pointing out dosa kita dan menegur kita. Dalam hal ini, Firman digambarkan sebagai makanan rohani.

 

2.       Sakramen

Di dalam gereja, terdapat dua sakramen, yaitu baptisan dan perjamuan kudus.
Keduanya adalah Firman yang dibuat kelihatan dan bisa dirasa (dimakan, diminum, disentuh, dialami secara fisik). Jadi sakramen itu ibarat Firman yang “diinkarnasikan”, bukan hanya masuk telinga (seperti khotbah), tetapi juga masuk tubuh.
“Manusia hidup bukan dr roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4).

3.       Makanan yang Dipandang Remeh

Ini seringkali kita temui sebagai makanan kita sehari-hari. Kelihatannya remeh, tapi makanan sehari-hari inilah yang justru membentuk sel tubuh kita, membuat kita kuat utk beraktivitas setiap hari, dan memberikan nutrisi bagi kita. We are not built on fine dining courses, but on water and rice. Ini bagai pasien yang datang ke dokter dengan penyakit ringan, let’s say batuk pilek. Seperti banyak pasien di jaman sekarang, mereka datang ke dokter dengan sudah membawa bekal ilmu dan self diagnosis dari Google. Maka, ketika mereka datang ke dokter, mereka langsung dengan “jitu” meminta obat antibiotik ini itu. Ketika dokter berkata bahwa obatnya sebenarnya hanya banyak istirahat, minum air, makan bergizi, mereka menjadi kecewa. Krn itu adalah hal-hal yang biasa-biasa aja. Sepiring nasi adalah hal sederhana, biasa saja, dan kita tidak sadar ketika memakannya, tetepi tanpa hal itu, kita tidak bisa hidup setiap hari. Sedangkan fancy restaurant foods itu special, memorable, “rhema”, tetapi justru bukan yg sustain buat hidup sehari2.

 

Firman & sakramen itu sperti air putih, nasi, dan roti. Yesus memakai roti dan anggur, untuk perjamuan terakhir-Nya yang melambangkan diri-Nya sendiri, sebuah hidayngan yang sangat sering dinikmati di jaman itu. Dan siapa itu Firman dalam daging? Yesus! Yesus  ke dirinya sendiri sebagai roti hidup dan air hidup. “Akulah Roti hidup, barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi (Yohanes 6:35)”. Yesus menggunakan makanan untuk mendemonstrasikan kematiannya dan juga menggunakan  makanan sebagai pengingat kematiannya. “Hai kamu semua yang haus, marilah dan minumlah air” (Yesaya 55:1). Di 1 Korintus 3:2, Paulus juga membandingkan pengajaran Allah dengan susu dan makanan keras. Bukan karena Firman & sakramen itu kurang wah, tetapi karena keduanya itu: cukup, setia, dan menopang hidup. Terkadang kita bosan membaca Firman Tuhan, dan tidak setiap hari kita membaca Alkitab sampai menangis dan bulu kuduk berdiri, tetapi itulah nasi. Kehadiran Firman & sakramen itu subtle, tidak berasa spesial, tapi ternyata aku bisa hidup selama ini ya karenanya. Pendeta Jethro Rachmadi memberikan analogi mengenai musik dan cara Tuhan bekerja yang sangat indah, yaitu seperti seperti garam. Dan saya rasa Firman dan sakramen dapat digambarkan dengan hal yang sama juga. Ketika kita makan kentang goreng kita pasti bilang “kentangnya enak ya”, dan bukan “garamnya enak ya”. Karena kehadiran garam itu tidak norak, melainkan subtle. Kehadirannya mungkin tidak berasa spesial, tetapi ternyata aku bisa hidup dan menikmati hal-hal lain di sekitarnya selama ini ya karenanya.

 

Kita sekarang kontraskan ini dengan fancy foods. Fancy foods itu ibarat KKR, natal akbar, momen spiritual yg emosional & rhema. Semua ini tentu tidak salah, dan amat sangat baik. Tetapi ini bukan menu harian kita dan tidak bisa terus menerus jadi sumber kekuatan iman kita. Kalau iman dan kasih kita kepada Kristus hanya berkobar di waktu2 yang wah, kita pasti akan mudah kecewa dan runtuh saat badai kehidupan dan pencobaan datang, dan kita merasa Tuhan tidak sedang bekerja saat hidup terasa biasa. Ibarat pasien di analogi kita tadi yang sudah terlalu sering minum antibiotik, sehingga dia menjadi resistant (kebal) terhadap pekerjaan Tuhan yang biasa-biasa saja. Bahayanya, kalau kita kenal Tuhan kita, Ia adalah Tuhan yang sering bekerja lewat cara yang biasa-biasa aja, melalui orang yang biasa-biasa saja, di tempat yang biasa-biasa saja. Pendeta Billy Kristanto pernah berkata, jangan sampai kita sisipan dengan Tuhan; kita pingin terus di atas, merasa wow, luar biasa, diangkat ke atas. Sedangkan Tuhan kita malah ingin turun ke bumi, belusukan & grounded. Akhirnya kita tidak peka akan kehadiran Tuhan dengan antribut ini.

 

 

LEFTOVERS (MAKANAN SISA)

 

Leftovers bukan makanan gagal. Ini hasil dari kecukupan dan kelimpahan anugerah Tuhan yang cukup, sederhana, tapi ada setiap pagi bagi kita.

Makanan sisa adalah anugerah Tuhan yang berlanjut dan senantiasa ada; disimpan, dijaga, dan dimakan lagi. Relasi Tuhan dengan kita tidak cuma satu kali penyembuhan atau calling pada saat pertobatan, tetapi Ia mau relasi yang personal dan berkelanjutan dengan kita. Ketika ujung jubah Yesus dijamah oleh wanita yang sudah lama sakit pendarahan, Tuhan tidak berkata “ya sudah, pergilah, kamu sudah mendapatkan penyembuhan dari penyakitmu yang kronis bukan?”, tetapi Tuhan berpaling dan bertanya “siapa yang memegang jubah-Ku?” Di sini, Tuhan menunjukkan bahwa Ia tidak ingin relasinya berhenti di penyembuhan saja, melainkan adanya continual personal relationship dengan orang itu setiap hari. Perjalanan kita dengan Tuhan setiap hari ini lah yang lebih penting daripada satu momen penyembuhan yang wah itu.

 

ROTI MANA: TIDAK BOLEH ADA MAKANAN SISA?

 

Kalau kita tarik perihal makanan sisa ini ke roti mana yang Tuhan berikan pada bangsa Israel di padang gurun, mungkin kesannya terbalik: Tuhan malah berkata ke bangsa Israel untuk tidak mengambil roti mana terlalu banyak sehingga tersisa untuk keesokan harinya. Ketika bangsa Israel mengambil lebih banyak daripada yang diharuskan, keesokan harinya Tuhan membuat mana mereka menjadi basi. Poin dari cerita ini bukan menganggap negatif makanan sisa, tetapi lebih fokus ke percaya dan beriman terhadap pemeliharaan Tuhan setiap hari. Meskipun kerap biasa saja, tawar, kesannya hambar, tetapi itulah pemeliharaan Tuhan yang cukup dan setia setiap hari. “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hujan roti dari langit bagimu tiap-tiap hari” (Keluaran 16:4-5).

 

 

PENGETAHUAN ATAS ASAL MUASAL MAKANAN

 

Kita sering menganggap makanan sehari-hari kita sebagai komoditas yang harus kita konsumsi saja, tidak ada arti dan tidak ada pesan moral. Kita mengkonsumsinya tanpa peduli dari mana bahan baku ini berasal, proses memasaknya, dan nutrisi yg kita dapatkan. Mungkin saja mi instan yg kita makan ini kurang gizi, atau makanan yg kita beli ini bahan bakunya berasal dari penganiayaan terhadap hewan, misalnya foie gras. Foie gras adalah liver angsa/bebek yang diambil dari liver hewan yang membengkak. Pembengkakkan ini disebabkan hewan yang digelontorin makanan secara paksa ke tenggorokannya sebelum hewannya disembelih. Hasilnya, foie gras memiliki cita rasa yang gurih, berlemak, dan sangat nikmat seperti sumsum tulang. Ini mirip kita yg mengkonsumsi teologi global, tanpa moralitas, tanpa Alkitab. Mungkin sebagai orang GRII, kita merasa kita kebalikannya dari ini; Alkitab kita kupas habis, kita adakan eksposisi, namun kita juga sama saja dengan orang yg tidak peduli asal muasal sebuah makanan, karena Tuhan tidak mau kita hidup hanya sebagai konsumen: konsumen teologi, konsumen knowledge, yang semuanya kita kerjakan untuk memenuhi otak kita. Kita dan kembali ke kita lagi. Tetapi Tuhan mau kita menjadi seorang penyembah dan representasi gambar dan rupa Allah, sebab kita dicipta untuk mengenal, menikmati, dan memuliakan Allah.

 

 

LITURGI

 

Hari ini kita fokus ke dua liturgi di ibadah:

1.       Firman: spiritual (pendengaran)

2.       Sakramen: bodily (fisik)

 

Tetapi kita juga berbicara tentang esensi dari liturgi itu sendiri. Liturgi bisa terasa biasa saja, kaku, dan itu-itu lagi, tetapi liturgi membentuk kesetiaan, bukan sensasi. Ibaratnya, liturgi ibadah menyiapkan kita untuk menghadapi hari biasa, Senin-Sabtu, dan bukan hanya untuk hari Minggu saja, untuk natal saja, untuk paskah saja. Liturgi yang diulang-ulang akan membuat iman kita kuat dan tidak rapuh.

Saya akan mengakhiri dengan satu ayat tentang kesetiaan Tuhan yang luar biasa bagi kita setiap hari, lewat hal-hal yang biasa-biasa saja, yaitu dari Ratapan 3:22-23, “Kasih setia TUHAN-lah yang membuat kita tidak binasa, sebab belas kasih-Nya tidak pernah habis. Setiap pagi kasih itu selalu diperbarui; besar dan teguh kesetiaan-Nya”.

Great is Thy faithfulness!

No comments:

Post a Comment